Antisipasi Resesi,

Cek Finansial Anda

Tinjau kembali pengeluaran selama ini dan mulailah berhemat.

“Pesta pernikahan sebetulnya dari awal emang pengen yang intimate, keluarga dan teman dekat saja, tapi kan itu juga butuh uang yang enggak sedikit ya. Jadi mungkin kalau resesi benar-benar terjadi akan banyak dipangkas, kita harus rela pestanya makin sederhana,” kata dia.

 

Sebagai bagian dari antisipasi, Gilang mengaku sudah mulai mengevaluasi arus kas bulanan dirinya. Setelah kenaikan BBM misalnya, Gilang mengaku sudah tak pernah lagi menggunakan ojek daring atau memesan makanan secara daring. Ia memilih untuk naik transjakarta, commuter line, atau pun jalan kaki.

 

“Pengeluaran transportasi itu lumayan kan kalau diakumulasi, kalau pakai ojol terus, apalagi sekarang harganya naik, ya boncos juga. Makanya aku sudah kurang-kurangin ojol atau pesan makan online,” jelas dia.

Kekhawatiran juga dirasakan milenial lainnya yakni Ayla Hasima, seorang  fresh graduate dari salah satu universitas di Bandung. Ia mengatakan bahwa saat peralihan pandemi Covid-19, lowongan pekerjaan untuk jurusan sosial masih terbilang susah, apalagi jika tahun depan terjadi resesi global.

 

Ia pun berharap, pemerintah bisa memberikan solusi semisal meluncurkan program magang dengan skala lebih luas bagi fresh graduate. “Pemerintah perlu bangetcampur tangan, karena gimanapun mereka itu yang pegang kebijakan. Bagi kita fresh graduate, ini menjadi periode paling sulit yang pernah dirasakan,” kata dia.

 

Sembari menunggu mendapatkan pekerjaan yang baik, saat ini Ayla mencoba berbisnis menjual camilan khas Bandung seperti baso aci, kripik, dan sebagainya. Dia biasa mempromosikan jualannya melalui akun media sosial dan Whatsapp pribadinya. Menurut Ayla, selama hampir satu bulan berjualan, respons pembeli cukup baik, setidaknya dalam seminggu dia bisa menjual 20 bungkus. “Itu lumayan bikin aku ada kegiatan, seenggaknya belajar berbisnis, mengatur agar ada untungnya. Walaupun sekarang masih reseller ya, tapi aku bisa belajar sedikit-sedikit cara jualan,” kata dia.

pixabay

Pemerintah perlu banget campur tangan, karena gimanapun mereka itu yang pegang kebijakan. Bagi kita fresh graduate, ini menjadi periode paling sulit yang pernah dirasakan.

Tahun 2022 beberapa bulan lagi akan berakhir. Namun, saat ini kita sudah diwanti-wanti akan ancaman resesi global pada 2023. Perkiraan resesi telah disampaikan oleh Presiden World Bank Group David Malpass mengatakan bahwa bank sentral dunia telah menaikkan suku bunganya dan tren tersebut akan berlanjut di tahun depan. Pada akhirnya, kebijakan itu berdampak pada perlambatan ekonomi yang bisa memunculkan resesi di banyak negara tak terkecuali Indonesia.

 

Ancaman resesi global tersebut tak dipungkiri memicu kekhawatiran banyak orang termasuk Gilang Kautsar, salah seorang karyawan swasta di Jakarta. Apalagi, kata Gilang, pemerintah Indonesia baru saja menaikkan harga bahan bakar minyak. “Dampak BBM naik saja kita masih kewalahan, apalagi kalau beneran terjadi resesi global, enggak kebayang gimana,” kata Gilang saat dihubungi Republika.

 

Meski sudah memiliki tabungan yang cukup, kekhawatiran Gilang masih sangat besar karena tahun depan ia berencana meminang kekasihnya. Dengan adanya ancaman resesi, itu tentu saja akan memengaruhi rencana pesta pernikahan dirinya dan calon istri.

Siapkan Dana Darurat

Lalu bagaimana cara ideal melakukan evaluasi keuangan akhir tahun dan persiapan menghadapi ancaman resesi global 2023? Perencana keuangan sekaligus founder QM Financial, Ligwina Hananto, menyarankan setiap individu atau keluarga untuk melakukan financial check-up guna mengevaluasi keuangan akhir tahun.

 

Cek financial menjadi cara ideal untuk memeriksa kondisi keuangan secara berkala demi mengetahui kondisi keuangan apakah sudah aman atau ternyata dalam kondisi yang perlu penanganan segera. Mirip dengan pemeriksaan kesehatan, jelas dia, pemeriksaan keuangan alias financial check-up akan memotret kondisi terkini keuangan setiap individu dan atau keluarga. “Data yang bisa dikumpulkan berupa daftar harta dan utang, serta lalu lintas keluar masuk uang alias cashflow,” kata Ligwina saat dihubungi Republika.

 

Dalam menghadapi ancaman resesi global pada 2023, Ligwina menyarankan untuk mulai bersiap sedari sekarang. Karena inflasi memang sudah terjadi, maka tentu pos anggaran juga akan semakin bergeser. Hal sederhana yang bisa dilakukan yaitu dengan memeriksa arus kas bulanan.

 

“Jika memiliki penghasilan terbatas, tentu saja perlu waspada. Kenaikan penghasilan biasanya lebih lambat dibandingkan inflasi. Oleh karena itu, jika memiliki keterbatasan, maka penting untuk review ulang pengeluaran tersier dan menyimpan lebih banyak untuk dana darurat,” jelas dia.

 

Ligwina menjelaskan, dana darurat memiliki peranan penting apalagi di tengah lonjakan inflasi dan ancaman resesi ekonomi dunia. Nilai nominal dana darurat setiap orang tentu berbeda. Untuk orang yang masih lajang minimal memiliki dana darurat sebesar tiga kali pengeluaran bulanan. Sementara bagi yang sudah memiliki tanggungan anak bisa sampai 12 kali dari nilai nominal pengeluaran bulanan.

freepik

Memiliki dana darurat juga penting guna menjauhkan seseorang dari jerat utang, apalagi pinjaman ke platform ilegal, karena hal tersebut malah akan menjerumuskan pada kerugian besar. Meski demikian, dalam perencanaan keuangan, kata Ligwina, utang boleh dilakukan asal termasuk utang baik.

 

Ligwina mengatakan, utang baik bisa membantu meringankan arus kas, menambah aset, dan turut memperkuat kondisi keuangan semial KPR atau utang bisnis. Adapun utang jahat itu adalah utang konsumtif, yang akhirnya tidak jelas habis buat apa dan bunganya besar.

 

“Saya cenderung menghindari utang. Kecuali untuk pembelian aset yang besar. Bahkan kalau perlu, jika sampai kepepet membutuhkan dana untuk keperluan hidup, saya lebih suka orang berdagang daripada utang,” jelas dia.

 

Menurut Ligwina, berdagang di zaman sekarang bisa dilakukan dengan sistem PO (preorder) atau kerja sama dengan teman yang memang bisa produksi. Dagang seperti ini rendah risiko, hasilnya pun cepat terlihat. Sementara memilih berutang saat kepepet, sebenarnya tidak menyelesaikan masalah. Berutang seperti ini hanya akan menyebabkan Anda kesulitan membayarkan cicilan dan bisa berujung masalah baru lagi.

 

Ia juga memberikan tip agar kita tidak terpuruk secara keuangan di tengah ancaman resesi. Hal pertama yang disarankan adalah fokus pada hal-hal yang bisa kita kendalikan yaitu penghasilan dan pengeluaran. Selanjutnya, perhatikan penghasilan utama Anda dan mari lakukan manajemen karier. Penghasilan hari ini akan berbeda dengan penghasilan kita 3, 5, bahkan 10 tahun dari sekarang, karena memang kita bersedia untuk bekerja giat dan terus belajar agar kapasitas diri meningkat.

 

“Selain itu mari melakukan manajemen arus kas. Apa yang sudah kita hasilkan hari ini, memang sebaiknya jangan sampai habis. Ada yang perlu kita sisihkan untuk bersedekah. Ada juga yang perlu kita sisihkan untuk masa depan. We live not only for today. Also for the days after tomorrow,” kata dia.

austin distel/UNSPLASH

top

FREEPIK